Bimtek Guru Belajar Seri AKM untuk Tingkat SMA dari kemendikbud.go.id
ASESMEN KOMPETENSI MINIMUM (AKM)
Bapak Ibu Guru sudah mengikuti bimteks AKM? jika belum silahkan mendaftar ke https://gurubelajar.kemdikbud.go.id/ sebelum tanggal 27 februari 2021 dan berlanjut hingga akhir tahun. Jika anda sudah ikut bimtek dan penasaran berapa nilai keaktifan partisipatif sekolah tempat anda mengajar dalam mengikuti bimtek ini anda dapat melihat di website tersebut. anda harus aktif memantau website simpkb.kemendikbud.go.id.
Asesmen Kompensi Minimum (AKM) merupakan salah satu instrumen asesmen nasional terhadap peserta didik yang berfokus pada kemmapuan dasar yakni Literasi Membaca dan Numerasi. Literasi Membaca menguji kompetensi menemukan informasi (access and retrive), memahami (interprete and integrate), dan mengevaluasi (evaluate and reflect) teks. Numerasi menguji kemampuan mengembangkan proses berpikir/proses kognitif yang meliputi knowing (pemahaman), apllying (penerapan), dan reasoning (penalaran). Kedua kemampuan ini merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki peserta didik agar kelak dapat berperan secara positif dan konstruktif di tengah masyarakat.
- Potret kualitas pembelajaran di sekolah/daerah
- Umpan balik peningkatan kualitas pembelajaran sekolah/daerah
- Dasar untuk penyusunan program penignkatan kualitas pembelajaran di sekolah/daerah.
- Memantau kesenjangan mutu dari waktu ke waktu dan antar bagian sistem pendidikan (kelompok sosial, wilayah, dll)
- Menunjukkan tugas utama sekolah yakni pengembangan kompetensi dan karakter siswa
- Memberi gambaran tentang karakter esensial sebuah sekolah yang efektif untuk mencapai tujuan utama.
Tujuan Asesmen
Kompetensi Minimum (AKM)
Apa itu Asesmen
Nasional?
Asesmen Nasional
adalah program penilaian terhadap mutu setiap sekolah, madrasah, dan program
kesetaraan pada jenjang dasar dan menengah. Mutu satuan pendidikan dinilai
berdasarkan hasil belajar murid yang mendasar (literasi, numerasi, dan
karakter) serta kualitas proses belajar-mengajar dan iklim satuan pendidikan
yang mendukung pembelajaran. Informasi-informasi tersebut diperoleh dari tiga
instrumen utama, yaitu Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Survei Karakter, dan
Survei Lingkungan Belajar.
Mengapa perlu ada
Asesmen Nasional?
Asesmen Nasional
perlu dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Asesmen ini dirancang untuk
menghasilkan informasi akurat untuk memperbaiki kualitas belajar-mengajar, yang
pada gilirannya akan meningkatkan hasil belajar murid.
Asesmen Nasional
menghasilkan informasi untuk memantau (a) perkembangan mutu dari waktu ke
waktu, dan (b) kesenjangan antar bagian di dalam sistem pendidikan (misalnya di
satuan pendidikan: antara kelompok sosial ekonomi, di satuan wilayah antara
sekolah negeri dan swasta, antar daerah, ataupun antar kelompok berdasarkan
atribut tertentu).
Asesmen Nasional
bertujuan untuk menunjukkan apa yang seha rusnya menjadi tujuan utama sekolah,
yakni pengembangan kompetensi dan karakter murid. Asesmen Nasional juga memberi
gambaran tentang karakteristik esensial sebuah sekolah yang efektif untuk
mencapai tujuan utama tersebut.
Hal ini diharapkan
dapat mendorong sekolah dan Dinas Pendidikan untuk memfokuskan sumber daya pada
perbaikan mutu pembelajaran.
Apakah Asesmen
Nasional menentukan kelulusan peserta didik?
Tidak, Asesmen
Nasional tidak menentukan kelulusan. Asesmen Nasional diberikan kepada murid
bukan di akhir jenjang satuan pendidikan. Asesmen Nasional juga tidak digunakan
untuk menilai peserta didik yang menjadi peserta asesmen. Hasil Asesmen
Nasional tidak akan memuat skor atau nilai peserta didik secara individual.
Seperti dijelaskan sebelumnya, hasil Asesmen Nasional diharapkan menjadi dasar
dilakukannya perbaikan pembelajaran. Dengan demikian, Asesmen Nasional tidak
terkait dengan kelulusan peserta didik. Penilaian untuk kelulusan peserta didik
merupakan kewenangan pendidik dan satuan pendidikan.
Siapa yang menjadi
peserta Asesmen Nasional?
Asesmen Nasional
akan diikuti oleh seluruh satuan pendidikan tingkat dasar dan menengah di
Indonesia, termasuk satuan pendidikan kesetaraan. Pada tiap satuan pendidikan,
asesmen akan dilakukan Di tiap satuan pendidikan, Asesmen Nasional akan diikuti
oleh sebagianpeserta didik kelas V, VIII, dan XI yang dipilih secara acak oleh
Pemerintah. Untuk pendidikan kesetaraan, peserta Asesmen Nasional adalah
peserta didik yang pada akhir jenjang, yaitu kelas VI (program Paket A/Ula),
kelas IX (Program Paket B/Wustha), kelas XII (program Paket C/ Ulya) yang telah
memenuhi syarat. Asesmen Nasional juga akan diikuti oleh guru dan kepala
sekolah di setiap satuan pendidikan. Informasi dari peserta didik, guru, dan
kepala sekolah diharapkan memberi informasi yang lengkap tentang kualitas
proses dan hasil belajar di setiap satuan pendidikan.
Mengapa Asesmen
Nasional hanya diikuti oleh sebagian murid?
Hal ini terkait
dengan tujuan dan fungsi Asesmen Nasional. Asesmen Nasional tidak digunakan
untuk menentukan kelulusan menilai prestasi murid sebagai seorang individu.
Evaluasi hasil belajar setiap individu murid menjadi kewenangan pendidik.
Pemerintah melalui Asesmen Nasional melakukan evaluasi sistem.
Asesmen Nasional
merupakan cara untuk memotret dan memetakan mutu sekolah dan sistem pendidikan
secara keseluruhan. Karena itu, tidak semua murid perlu menjadi peserta dalam
Asesmen Nasional. Yang diperlukan adalah informasi dari sampel yang mewakili
populasi murid di setiap sekolah pada jenjang kelas yang menjadi target dari
Asesmen Nasional.
Mengapa yang
menjadi sampel adalah murid kelas V, VIII dan XI?
Hasil Asesmen
Nasional diharapkan menjadi dasar dilakukannya perbaikan pembelajaran.
Pemilihan jenjang kelas V, VIII dan XI dimaksudkan agar murid yang menjadi
peserta Asesmen Nasional dapat merasakan perbaikan pembelajaran ketika mereka
masih berada di sekolah tersebut. Selain itu, Asesmen Nasional juga digunakan
untuk memotret dampak dari proses pembelajaran di setiap satuan pendidikan.
Murid kelas V,VIII, dan XI telah mengalami proses pembelajaran di sekolahnya,
sehingga sekolah dapat dikatakan telah berkontribusi pada hasil belajar yang
diukur dalam Asesmen Nasional.
Apakah Asesmen
Nasional menggantikan UN?
Asesmen Nasional
tidak menggantikan peran UN dalam mengevaluasi prestasi atau hasil belajar
murid secara individual. Namun Asesmen Nasional menggantikan peran UN sebagai
sumber informasi untuk memetakan dan mengevaluasi mutu sistem pendidikan.
Sebagai alat untuk mengevaluasi mutu sistem, Asesmen Nasional akan menghasilkan
potret yang lebih utuh tentang kualitas hasil belajar serta proses pembelajaran
di sekolah. Laporan hasil Asesmen Nasional akan dirancang untuk menjadi
“cermin” atau umpan balik yang berguna bagi sekolah dan Dinas Pendidikan dalam
proses evaluasi diri dan perencanaan program.
Mengapa yang diukur
adalah literasi dan numerasi?
Asesmen Nasional
mengukur dua macam literasi, yaitu Literasi Membaca dan Literasi Matematika
(atau Numerasi). Keduanya dipilih karena merupakan kemampuan atau kompetensi
yang mendasar dan diperlukan oleh semua murid, terlepas dari profesi dan
cita-citanya di masa depan. Literasi dan numerasi juga merupakan kompetensi
yang perlu dikembangkan secara lintas mata pelajaran. Kemampuan membaca yang
diukur melalui AKM Literasi sebaiknya dikembangkan tidak hanya melalui
pelajaran Bahasa Indonesia, tapi juga pelajaran agama, IPA, IPS, dan pelajaran
lainnya. Kemampuan berpikir logis-sistematis yang diukur melalui AKM Numerasi
juga sebaiknya dikembangkan melalui berbagai pelajaran. Dengan mengukur
literasi dan numerasi, Asesmen Nasional mendorong guru semua mata pelajaran
untuk berfokus pada pengembangan kompetensi membaca dan berpikir
logis-sistematis.
Mengapa Asesmen
Nasional juga mengukur karakter murid?
Asesmen Nasional
bertujuan tidak hanya memotret hasil belajar kognitif murid namun juga memotret
hasil belajar sosial emosional. Asesmen nasional diharapkan dapat memotret
sikap, nilai, keyakinan, serta perilaku yang dapat memprediksi tindakan dan
kinerja murid di berbagai konteks yang relevan. Hal ini penting untuk
menyampaikan pesan bahwa proses belajar-mengajar harus mengembangkan potensi
murid secara utuh baik kognitif maupun non kognitif.
Bagaimana kaitan
antara Asesmen Nasional dengan kurikulum?
Asesmen Nasional
mengukur kompetensi mendasar (general capabilities) yang dapat diterapkan
secara luas dalam segala situasi. Kompetensi mendasar ini perlu dipelajari oleh
semua murid dan sekolah, sehingga dibangun melalui pembelajaran beragam materi
kurikulum lintas mata pelajaran.
Target asesmen yang
sekedar mengukur penguasaan murid akan konten atau materi kurikulum menjadi
tidak relevan karena di era informasi saat ini, pengetahuan faktual semakin
mudah diperoleh dan diakses oleh hampir setiap orang. Sekedar mengetahui
menjadi tidak cukup dan kurang relevan.
Asesmen Nasional
berfokus mengukur pada kemampuan murid untuk menggunakan dan mengevaluasi
pengetahuan yang diperoleh dari beragam materi kurikulum untuk merumuskan serta
menyelesaikan masalah. Asesmen Nasional menggeser fokus dari keluasan
pengetahuan menuju kedalaman kompetensi dari kurikulum.
Apa peran Asesmen
Nasional dalam pendidikan jalur non-formal?
Seperti pada
pendidikan formal, Asesmen Nasional pada pendidikan jalur non-formal, berfungsi
untuk memetakan dan mengevaluasi mutu pendidikan. Namun, selain itu Asesmen
Nasional, khsususnya AKM berfungsi sebagai ujian penyetaraan. Seperti telah
disampaikan pada halaman 6, peserta Asemen Nasional pada pendidikan kesetaraan adalah
peserta didik yang berada pada tahap akhir program belajarnya, yaitu kelas VI,
kelas IX, dan kelas XII. Peserta Asesmen Nasional pendidikan jalur non-formal
adalah peserta didik yang memenuhi syarat dan mendaftarkan diri untuk ujian
kesetaraan. Hasil ujian kesetaraan tersebut sekaligus digunakan sebagai Rapor
satuan pendidikan kesetaraan.
Instrumen Asesmen
Kompetensi Minimum (AKM)
Apa perbedaan AKM
dengan UN?
Perbedaan instrumen AKM dengan UN
dijelaskan pada tabel berikut:
Asesmen Nasional
terdiri dari tiga instrumen, yaitu:
a. Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) yang mengukur literasi membaca dan literasi
matematika (numerasi) murid.
b. Survei Karakter yang mengukur sikap, nilai, keyakinan, dan kebiasaan yang
mencerminkan karakter murid;.
c. Survei Lingkungan Belajar yang mengukur kualitas berbagai aspek input dan
proses belajar-mengajar di kelas maupun di tingkat sekolah.
Apakah yang
dimaksud dengan minimum pada AKM?
Asesmen Kompetensi
Minimum (AKM) dilakukan untuk mengukur literasi membaca dan numerasi matematika
murid.
Pengertian minimum
untuk menunjukkan literasi membaca dan numerasi merupakan kompetensi yang
setidak-tidaknya harus dimiliki untuk seseorang dapat berfungsi secara
produktif dalam kehidupan. Konten yang diukur bersifat esensial serta
berkelanjutan lintas kelas maupun jenjang. Tidak semua konten pada kurikulum
diujikan.
Apa perbedaan AKM
dan Survei Karakter?
AKM mengukur hasil
belajar kognitif yang mengukur literasi membaca dan literasi matematika
(numerasi) murid.
Sementara Survei
Karakter mengukur hasil belajar emosional yang mengacu pada Profil Pelajar
Pancasila dimana pelajar Indonesia memiliki kompetensi global dan berperilaku
sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.
Apakah instrumen
Survei Lingkungan sama untuk murid dan untuk guru?
Tidak. Meskipun
Survei Lingkungan Belajar menggali informasi mengenai kualitas proses
pembelajaran dan iklim sekolah yang menunjang pembelajaran, namun pertanyaan
akan disesuaikan dengan perspektif respondennya.
Terdapat berbagai
macam literasi, misalnya membaca, sains, digital, dan keuangan. Apakah AKM
meliputi semua literasi tersebut?
Tidak. AKM tahun
2021 hanya mencakup literasi membaca dan literasi matematika (numerasi).
Apa sajakah komponen dari literasi membaca dan numerasi yang diukur di AKM?
Asesmen literasi membaca dan numerasi
pada AKM dapat ditinjau dari 3 komponen (aspek) yaitu: konten, proses kognitif,
serta konteks. bagan berikut menjelaskan rincian komponen AKM literasi membaca
serta numerasi.
|
LITERASI MEMBACA |
NUMERASI |
|
|
KONTEN |
Teks
Informasi dan Sastra |
Aljabar,
Bilangan, Geometri, Pengukuran, Data dan Ketidakpastian |
|
PROSES KOGNITIF |
Menemukan,
Interpretasi dan Integrasi, Evaluasi dan Refleksi Informasi |
Pemahaman,
Penerapan dan Penalaran |
|
KONTEKS |
Personal,
Sosial Budaya, dan Saintifik |
Personal,
Sosial Budaya, dan Saintifik |
Bagaimana bentuk soal Asesmen Nasional?
Bentuk
soal Asesmen Nasional terdiri dari pilihan ganda, pilihan ganda kompleks,
menjodohkan, isian singkat dan uraian.
- Pilihan
ganda, murid hanya dapat memilih satu jawaban benar
dalam satu soal.
- Pilihan
Ganda Kompleks, murid dapat memilih lebih dari satu
jawaban benar dalam satu soal.
- Menjodohkan,
murid menjawab dengan dengan cara menarik garis dari satu titik ke titik
lainnya yang merupakan pasangan pertanyaan dengan jawabannya.
- Isian
singkat, murid dapat menjawab berupa bilangan, kata untuk
menyebutkan nama benda, tempat, atau jawaban pasti lainnya.
- Uraian,
murid menjawab soal berupa kalimat-kalimat untuk menjelaskan jawabannya.
Berapa banyak soal yang akan dikerjakan murid saat AKM?
Murid kelas V akan
mengerjakan 30 soal untuk masing-masing literasi membaca dan numerasi.
Sedangkan murid kelas VIII dan XI akan mengerjakan 36 soal.
Apakah murid
memperoleh soal setara dengan murid lainnya?
AKM dilaksanakan
secara adaptif, sehingga setiap murid akan menempuh soal yang sesuai dengan
kemampuan murid itu sendiri.
Apakah soal AKM
untuk peminatan IPA, IPS, Bahasa, dan Agama berbeda? Apakah seperti soal UN
pembagian porsinya?
Tidak. AKM mengukur
kompetensi mendasar yang perlu dipelajari semua murid tanpa membedakan
peminatannya. Oleh karena itu seluruh murid akan mendapat soal yang mengukur
kompetensi yang sama. Keunikan konteks beragam materi kurikulum lintas mata
pelajaran dan peminatan tercermin dalam ragam stimulus soal-soal AKM.
Apakah ada
contoh-contoh soal latihan AKM yang disediakan secara khusus?
Ya. Pusmenjar
menyediakan contoh soal AKM pada laman: https://pusmenjar.kemdikbud.go.id/akm.
Adakah semacam
kisi-kisi untuk mengikuti asesmen nasional? Kapan dan di mana kami dapat
memperolehnya?
Tidak ada kisi-kisi.
AKM disusun berdasarkan indikator-indikator kompetensi yang membentuk lintasan
kompetensi hasil belajar yang bersifat kontinum. Pusmenjar menyediakan contoh
soal AKM untuk setiap indikator kompetensi pada laman: https://pusmenjar.kemdikbud.go.id/akm.
Apa saja perangkat
yang dapat digunakan untuk Tes ini?
- Komputer Client Memory 2 GB, Resolusi 1024 x 720, Windows 7 ke atas, ChromeOS, Bandwith 12 Mbps untuk 15 client
- Tersedia jaringan internet (offline/online)
- Operator teknis
Apakah pemerintah
sudah menyediakan sarana dan prasarana untuk mendukung terselenggaranya AKM ?
Sarana prasarana
dapat disiapkan oleh sekolah salah satunya melalui bantuan pemerintah. Cara
lainnya adalah menumpang di sekolah terdekat atau meminjam komputer dari
orangtua, instansi lain, atau pihak lainnya.
Pelaksanaan Asesmen
Kompetensi Minimum (AKM)
Siapa saja yang
harus mengikuti Asesmen Nasional?
Peserta Asesmen
Nasional adalah seluruh satuan pendidikan yang terdiri atas: kepala sekolah,
seluruh guru, dan murid yang dipilih secara acak dengan stratifikasi sosial
ekonomi oleh Kemdikbud. Jenjang SD/ MI, kelas V maksimal 30 murid, jenjang
SMP/MTS kelas VIII, SMA/MA, SMK kelas IX maksimal 45 murid setiap satuan
pendidikan.
Siswa yang memiliki
hambatan intelektual atau hambatan lainnya sehingga tidak memungkinkan untuk
mengerjakan asesmen secara mandiri/tanpa bantuan, tidak mengikuti Asesmen
Nasional, misalnya siswa pada SLB A, SLB C, dan SLB G. Bila siswa pada SLB
lainnya juga mengalami hambatan untuk pelaksanaan secara mandiri juga tidak
diikutkan sebagai peserta Asesmen Nasional. Namun guru dan kepala sekolah pada
sekolah-sekolah tersebut tetap mengikuti Asesmen Nasional, khususnya sebagai
peserta survei lingkungan belajar.
Siapa saja yang
mengikuti AKM?
Peserta AKM adalah
semua murid yang menjadi responden Asesmen Nasional. Asesmen Nasional juga
akan diikuti oleh semua guru dan kepala sekolah di setiap satuan pendidikan.
Informasi dari peserta didik, guru, dan kepala sekolah diharapkan memberi
informasi yang lengkap tentang kualitas proses dan hasil belajar di setiap
satuan pendidikan. Sementara Asesmen Kompetensi Minimum untuk pendidikan
kesetaraan berfungsi sebagai ujian kesetaraan.
Apakah Asesmen Nasional wajib diikuti
oleh seluruh satuan pendidikan di seluruh Indonesia?
Ya, Asesmen
Nasional dilaksanakan di seluruh sekolah, madrasah dan satuan pendidikan
kesetaraan di wilayah Indonesia.
Bolehkah SMP/MTs,
SMA/MA, SMK yang jumlah muridnya kurang dari 45 tidak ikut Asesmen Nasional?
Tidak. Semua satuan
pendidikan wajib mengikuti Asesmen Nasional. Jika jumlah murid kurang dari 45,
maka semua murid akan menjadi responden. Begitu pula dengan satuan pendidikan
di jenjang SD/MI, jika jumlah murid kurang dari 30, maka semua murid akan
menjadi responden.
Bagaimana penentuan
murid yang mengikuti Asesmen Nasional?
Murid akan dipilih
secara acak oleh Kemdikbud dengan mempertimbangkan faktor sosial ekonomi.
Satuan pendidikan tidak diper- kenankan mengganti sampel murid karena dapat
memengaruhi hasil dan tindak lanjut perbaikan pembelajaran.
Berapa persen batas
minimal, banyaknya guru yang mengikuti Asesmen Nasional?
Tidak ada batas
minimal. Target responden Asesmen Nasional adalah semua guru baik status
kepegawaian tetap maupun pegawai lepas/honorer. Tujuan Survei Lingkungan
Belajar adalah menggali informasi yang dapat mencerminkan kondisi sekolah
sesungguhnya. Sehingga tingkat partisipasi yang tinggi diharapkan mampu
memberikan cerminan yang lebih baik.
Bolehkah murid
kelas IX ikut mendaftar AKM untuk menguji kemampuan literasi?
Tidak boleh.
Responden AKM dipilih secara acak oleh Kemdikbud untuk target sasaran kelas V,
kelas VIII, dan kelas XI.
Kapan AKM akan
dilaksanakan?
Pelaksanaan Asesmen
Nasional untuk siswa kelas VIII jenjang SMP/MTs, serta kelas XI jenjang SMA/MA,
dan SMK pada akhir Maret- Pertengahan April 2021; untuk siswa kelas V jenjang
SD/MI direncankan pada bulan Agustus 2021.
Berapa lama waktu
pelaksanaan Asesmen Nasional?
Asesmen Nasional
terdiri atas: (1) AKM, (2) Survei Karakter, dan (3) Survei Lingkungan Belajar.
Pelaksanaan Asesmen Nasional untuk murid akan dilaksanakan selama dua hari.
Hari pertama untuk Asesmen Literasi Membaca dan Survei Karakter, sedangkan hari
kedua untuk Asesmen Numerasi dan Survei Lingkungan Belajar.
Alokasi waktu sesi asesmen maupun
survei berbeda untuk murid kelas V dengan murid kelas VIII serta XI. Alokasi
waktu asesmen dapat dilihat pada tabel berikut:
|
HARI PERTAMA |
HARI KEDUA |
|
|
SD/MI |
Tes
Literasi 75 menit |
Tes
Numerasi 75 menit |
|
SMP/MTs SMA/SMK/MA |
Tes
Literasi 90 menit |
Tes
Numerasi 90 menit |
Pelaksanaan Survei
Lingkungan Belajar untuk kepala sekolah dan guru lebih fleksibel dan diberikan
alokasi waktu melengkapi semua pertanyaan selama pelaksanaan Asesmen Nasional
di sekolah yang bersangkutan (2-4 hari). Pengerjaan angket oleh kepala sekolah
maupun guru dilakukan secara daring tanpa pengawasan.
Apakah akan
diadakan uji coba AKM dan Survei Karakter serta kapan pelaksanaannya?
Uji coba akan
dilaksanakan satu bulan sebelum pelaksanaan AKM melalui mekanisme gladi bersih.
Uji coba ini bertujuan untuk memastikan aplikasi dapat berjalan dengan lancar
serta mekanisme pelaksanaan Asesmen Nasional dipahami oleh setiap pihak yang
terlibat.
Selain uji coba,
Kemdikbud menyelenggarakan simulasi AKM untuk mengenalkan model soal AKM dan
memberi kesempatan kepada murid untuk familiar dengan aplikasi serta ragam soal
AKM.
Bagaimana teknik
pelaksanaan Asesmen Nasional, apakah sama seperti UNBK semi daring?
Terdapat sejumlah
modifikasi pada teknik pelaksanaan Asesmen Nasional, seperti bentuk soal,
maupun sistem adaptif. Namun secara umum tenaga teknis yang mampu melakukan
UNBK semi daring akan mudah mempelajari sistem pelaksanaan Asesmen Nasional.
Bagaimana aturan
pelaksanaan di sekolah? (pengawasan, pendanaan, pengaturan peserta setiap
ruang)
Aturan pelaksanaan
di sekolah akan dituangkan lebih detail di dalam Prosedur Operasional Standar
(POS) Asesmen Nasional.
Bagaimana bila
terdapat guru yang tidak mengikuti Survei Lingkungan Belajar?
Kemdikbud
memberikan alokasi waktu antara 2-4 hari selama pelaksanaan Asesmen Nasional di
sekolah untuk guru dan kepala sekolah mengisi Survei Lingkungan Belajar.
Diharapkan dalam tenggat waktu tersebut semua guru akan berpartisipasi.
Partisipasi setiap guru di dalam Survei Lingkungan Belajar akan mempengaruhi
akurasi gambaran umum iklim belajar dan iklim satuan pendidikan.
Apakah pelaksanaan
AKM dapat dilakukan lebih dari satu sesi? berapakah jumlah sesi yang diijinkan
setiap harinya?
Setiap sesi
memerlukan waktu maksimal 140 menit untuk jenjang SD sederajat dan 165 menit
untuk jenjang SMP/SMA sederajat. Oleh karena itu, dalam satu hari dapat
diselenggarakan 3 sesi tes. Pembagian waktu setiap sesi digambarkan pada tabel
berikut:
Bisakah guru
melakukan Asesmen Nasional (Survei Lingkungan Belajar) dari rumah?
Ya. Pengisian
Survei Lingkungan Belajar secara daring dapat dilakukan dari mana saja
sepanjang terdapat akses internet.
Apakah tahapan yang
dilakukan sekolah untuk mengikuti Asesmen Nasional sama dengan UNBK?
Tidak. Meskipun
sebagian besar tahapan sama, tetapi proses pendataan di Asesmen Nasional
berbeda dengan UNBK karena ada pemilihan murid serta pendataan responden guru.
Pada saat UNBK ada
sekolah yang bergabung dengan sekolah lain, apakah Asesmen Nasional juga dapat
menerapkan hal yang sama?
Ketika pelaksanaan
Asesmen Nasional, sekolah dapat menginduk ke sekolah lain yang kondisi
infrastrukturnya lebih memadai. Namun pelaporan hasil akan tetap dipisahkan
untuk masing-masing satuan pendidikan.
Apakah persiapan
untuk mengikuti Asesmen Nasional sama dengan UN, seperti adanya proktor,
teknisi, dsb?
Ya. Sistem aplikasi
Asesmen Nasional mengadopsi sistem UNBK dengan modifikasi. Modifikasi meliputi
ragam format soal tidak hanya pilihan ganda dan isian, namun ditambahkan format
pilihan ganda kompleks, menjodohkan, serta uraian. Selain itu, pada AKM
soal-soal yang disajikan akan adaptif terhadap kemampuan murid dalam menjawab
soal-soal sebelumnya. Proktor dan teknisi berperan penting dalam memastikan
keberfungsian infrastruktur sekolah, setup aplikasi serta dukungan teknis
selama pelaksanaan Asesmen Nasional.
Bagaimana pihak
sekolah/madrasah menyiapkan murid untuk menghadapi AKM?
AKM mengukur
kompetensi kecakapan hidup yang merupakan hasil belajar murid lintas beragam
mata pelajaran. Oleh karena itu, keberhasilan di AKM tidak melalui proses
drilling soal-soal. Satuan pendidikan diharapkan mewujudkan proses pembelajaran
yang mendorong terbangunnya kompetensi serta karakter murid.
Untuk mengenalkan
murid pada beragam format soal AKM serta aplikasi AKM, Kemdikbud akan
menyelenggarakan simulasi serta gladi bersih. Satuan pendidikan diharapkan
aktif mengikuti simulasi dan gladi bersih sebagai upaya menyiapkan murid
menghadapi AKM. Selain itu, Pusmenjar menyediakan contoh soal AKM untuk setiap
indikator kompetensi pada laman: https://pusmenjar.kemdikbud.go.id/akm.
Bagaimana cara
mengatasi kendala jika sarana pendukung pelaksanaan AKM kurang memadai?
- Sekolah dapat menumpang sekolah lain terdekat yang memiliki infrastruktur lebih memadai.
- Sekolah dapat meminjam komputer/laptop dari orang tua atau dari instansi lain.
Bila ada kendala
sehingga tes terputus, apakah soal yang telah dikerjakan otomatis tersimpan?
Ya. Aplikasi AKM
secara otomatis akan melakukan penyimpanan data ketika murid menekan tombol
soal berikutnya. Kendala lampu padam atau putus koneksi tidak menyebabkan murid
mengulang asesmen dari awal.
Karena keterbatasan
sarana mungkinkah sekolah mengikuti Asesmen Nasional secara manual?
Tidak. Ragam
stimulus serta format soal AKM menuntut cetakan berwarna dengan jumlah halaman
yang tidak sedikit disajikan dalam asesmen kertas dan pensil. Selain itu
pengujian secara adaptif tidak mudah diadopsi dalam asesmen berbasis kertas dan
pensil.
Tindak Lanjut
Asesmen Kompetensi Minimum (AKM)
Bagaimana cara AKM
memotret kemajuan proses belajar?
Laporan AKM akan
memberikan potret level kompetensi murid di setiap satuan pendidikan pada
literasi membaca dan numerasi. Hasil antar tahun dapat diperbandingkan dan
dijadikan salah satu indikasi kemajuan proses belajar di setiap satuan
pendidikan.
Apakah Asesmen
Nasional akan digunakan untuk memeringkatkan sekolah di Indonesia?
Tidak. Asesmen
Nasional digunakan sebagai alat refleksi bagi setiap satuan pendidikan untuk
mampu melakukan langkah perbaikan.
Apakah ada
nilai/skor minimal dalam AKM?
Tidak. AKM
melaporkan persentase murid dalam setiap level kompetensi. Diharapkan semua
murid mencapai level kompetensi cakap atau mahir.
Apakah murid yang
sama yang pernah mengikuti tes AKM bisa mengulang kembali tes AKMnya, jika nilainya
rendah?
Tidak, karena AKM
tidak bertujuan untuk mengukur kompetensi di tingkat individu murid.
Dapatkah murid
kelas XI yang mengikuti AKM mengetahui hasil AKMnya?
Tidak. Setiap guru
dapat memetakan kemampuan muridnya menggunakan instrumen AKM kelas. Hasil AKM
nasional akan melaporkan pada level sekolah, bukan pada level individu.
Bagaimana hasil
Asesmen Nasional ini dimanfaatkan oleh sekolah?
Sekolah diharapkan
menjadikan hasil Asesmen Nasional sebagai alat refleksi untuk memperbaiki
kualitas pembelajaran dan iklim satuan pendidikan.
Apakah data hasil
survei yang diperoleh sekolah berupa gambaran global satu sekolah?
Ya. Hasil Asesmen
Nasional baik AKM maupun Survei akan dilaporkan sebagai hasil sekolah dan tidak
dilaporkan dalam level individu murid maupun guru.
Adakah pelatihan
guru terkait persiapan AKM atau setelah AKM?
Tidak ada pelatihan
guru terkait persiapan AKM. AKM memotret kompetensi kecakapan hidup yang tidak
dapat di-drilling atau diajarkan melalui bimbel. Oleh karena itu, fokus penguatan
guru adalah saat menindaklajuti hasil AKM: baik memaknai, memanfaatkan sebagai
umpan balik proses pembelajaran serta penguatan kapasitas guru dalam melakukan
pembelajaran serta merancang asesmen yang berkualitas.
Apa tindak lanjut
dari sekolah dengan hasil AKM?
Sekolah diharapkan
mampu merefleksi hasil AKM dalam pembelajaran sehingga guru-guru menerapkan
teaching at the right level serta fokus membangun kompetensi serta karakter
murid. laporan sekolah terkait iklim belajar dan iklim satuan pendidikan
diharapkan ditindaklanjuti manajemen sekolah untuk menyusun dan melaksanakan
programprogram sekolah yang mendorong terciptanya iklim belajar yang positif
dan kondusif.
LAPORAN HASIL AKM
Baca juga, tanya jawab Ujian Nasional di: Tanya Jawab UN
Baca juga, tanya jawab AKM di : Tanya Jawab AKM
Baca juga, AKM dan Implikasinya pada Pembelajaran : AKM dan Impikasinya pada Pembelajaran
Baca juga, Bank soal AKM level 5 dan 6 di : Bank Soal AKM Level 5 dan 6
Baca juga, Desain Pengembangan Soal AKM di : Desain Pengembangan Soal AKM
Baca juga, Contoh Soal AKM Literasi di : Contoh Soal AKM Literasi
Baca juga, Contoh Soal AKM Numerasi di : Contoh Soal AKM Numerasi
Baca juga, Level Pembelajaran AKM di : Level Pembelajaran AKM
DAFTAR PUSTAKA
https://gurubelajar.kemdikbud.go.id/
https://hasilun.puspendik.kemdikbud.go.id/akm/akm?j=1&l=5
pusmenjar.kemdikbud.go.id/akm/
https://gurubelajar.kemdikbud.go.id/seri-asesmen-kompetensi-minimum/
https://paspor-gtk.belajar.kemdikbud.go.id/
Tim Erlangga Fokus AKM SMA/MA 2020
https://kelasguru.com/penilaian/asesmen-kompetensi-minimum-akm/



















Tidak ada komentar:
Posting Komentar