MEMBANGUN BUDAYA POSITIF MELALUI KESEPAKATAN KELAS

 


 

1.      LATAR BELAKANG

Gagasan Ki Hadjar Dewantara tentang “menghamba kepada anak” merupakan klimaks dari proses pembelajaran among yang dilaksanakan. Guru harus mampu mengembangkan fitrah/potensi (kodrat alam) anak menuju kompetensi yang dibutuhkannya dalam menjawab tantangan zaman (kodrat zaman). Dalam menghadapi itu semua tentu kita harus memiliki filter tentang masifnya arus globalisasi dimana kita semua merupakan bagian dari masyarakat dunia. Trikon efektif membendung budaya yang tidak sesuai dengan karakter bangsa Indonesia yang heterogen, karenanya KEMENDIKBUDRISTEK mengidamkan Profil Pelajar Pancasila dipraktikkan dengan baik dalam lembaga pendidikan sebagai visi yang harus dibangun dengan kompak.

Lembaga pendidikan utamanya sekolah merupakan institusi pembentuk karakter bangsa harus mampu mem-breakdown cita-cita tersebut ke dalam kebiasaan yang akan membudaya dalam keseharian aktivitas belajar mengajar, tidak hanya di kelas namun di setiap lini lingkungan belajar, seluruh warga sekolah, staff, orang tua harus berkomitmen menjadi teladan bagi siswa. Sebelum merambah lebih jauh ke dalam penyusunan visi misi sekolah sebagai penguat sistem dan konsistensi perilaku positif ada baiknya diawali dari hal-hal kecil yang bisa dilakukan guru di kelas, yakni membuat kesepakatan kelas. Seperti pada umumnya, sebuah kesepakatan harus mengikat, disepakati, dilaksanakan, dan dipatuhi sebagai norma keseharian yang dilakukan di kelas. Dari kelas-kelas kecil inilah akan terbentuk ekosistem, budaya, dan disiplin positif di lingkungan sekolah. Kesepakatan kelas harus melibatkan elemen utama yakni siswa sebagai subjeknya, kemudian para wali kelas, guru, dan diikuti oleh seluruh warga sekolah.

 

2.      DESKRIPSI AKSI NYATA

Langkah awal membentuk disiplin positif dan budaya positif sekolah diawali dengan membuat kesepakatan kelas. Yang paling mudah sebagai motornya adalah para wali kelas dan dilakukan di tahun ajaran baru untuk kemudian direfeleksi dan dievaluasi setiap saat (ada kejadian yang tidak sesuai kesepakatan), bulanan, awal semester, dan sebagainya. Bagaimana jika bukan wali kelas? Bapak Ibu Guru tetap dapat membuat kesepakatan kelas berdasarkan mata pelajaran, jika pembina ekstrakurikuler, pembina ROHIS, OSIS, MPK, bahkan pengelola kantin, UKS, 7K juga dapat membuat kesepakatan kelas tergantung kelas binaannya, akan lebih mudah jika seirama dengan kesepakatan kelasnya, sehingga anak akan mudah mengingat hal-hal prioritas, hafal perilaku yang ditanamkan dalam kesepakatan kelas tersebut yang akan dibiasakannya dalam keseharian sehingga menjadi karakter siswa. Sikap spontan yang baik adalah wujud karakter baik.

Bagaimana cara menyusun kesepakatan kelas? Sebelum saya melakukan kesepakatan kelas saya melakukan komunikasi dengan pimpinan terlebihd ahulu, kemudian melakukan pendekatan dengan beberapa rekan sejawat yang menjadi wali kelas tentang rencana saya, kemudian dilanjutkan dengan sosialisasi kepada siswa. Pertama tanya pendapat siswa ingin mengembangkan karakter seperti apa di sekolah, guru dapat mengajak siswa melakukan refleksi dialogis dengan perbincangan ringan, kemudian ajak siswa mengutarakan ide tentang kelas impiannya, apakah kelas yang ceria, semangat, kompetitif, kolaboratif, dan sebagainya, jangan batasi ide. Upaya ini saya lakukan karena saya bukan wali kelas, sehingga informasi yang saya bagi kepada rekan guru dan murid akan mudah diterapkan jika sudah sama-sama tahu apa yagn akan dilakukan. Jadi ketika sang wali kelas memimpin penyusunan kesepakatan kelas, pengurus kelas akan mudah memetakan, dan seluruh siswa di kelas akan dapat berkontribusi dengan maksimal.

Jika biasanya kesepakatan kelas berisi aturan kelas yang tidak boleh dilanggar seperti diksi “dilarang gaduh di kelas” atau “jangan ribut ketika belajar” diganti dengan diksi positif “belajar dengan sungguh-sungguh dan bersemangat setiap hari”, “kami saling peduli antar teman”, kata negatif diubah ke dalam kata positif yang menekankan kata sifat sebagai penekanan karakter diharapkan dapat menumbuhkan sikap positif di alam bawah sadar siswa. Pada tahap ini saya memimta siswa masuk ke dalam tautan padlet untuk menuangkan ide mereka tentang kelas impian. Para wali kelas yang ikut bergabung dalam pertemuan daring dan luring tersebut dapat mengamati apa yagn diharapkan siswa terjadi di kelasnya. Para wali kelas memetakan keinginan siswa, kemudian meminta sekretaris kelas menyusun 4-6 kesepakatan kelas yang telah untuk dibahas di dalam kelas mereka. Setelah semua sepakat, sekretaris kelas membuat poster dari kertas karton, kertas HVS, poster digital dan di tandatangani bersama ada yang berupa tanda bintang, jempol, hati, pencantuman nama, tanda tangan manual, dan sebagainya berhubung kelas masih berlangsung secara daring. Setelah kesepakatan selesai dibuat maka tugas selanjutnya wali kelas adalah melakukan refleksi terhadap pemberlakuan kesepakatan tersebut.

 

3.      HASIL AKSI NYATA

Hasil aksi nyata penyusunan kesepakatan ini tentu diagapresiasi dengan baik meskipun ada beberapa guru yang meragukan tentang hal tersebut karena sudah tertanam jika siswa tidak dipaksa dengan diberikan batasan perilaku, larangan, hukuman, maka tidak akan ketertiban. Namun hambatan justru jadi peluang, denan beberapa rekan sejawat yang mau menerapkannya ke kelas mereka akan dapat dievaluasi pelaksanaannya beberapa minggu berikutnya.

 

4.      PEMBELAJARAN YANG DIDAPATKAN DARI PELAKSANAAN

Meski belum dirasakan maksimal tentang perubahan perilaku yang nampak pada siswa karena pembelajaran masih daring, paling tidak kesepakatan kelas menjadi rambu-rambu bagi siswa untuk merefleksikan apa yang akan mereka lakukan ketika belajar daring bersama rekan sekelasnya. Saya mendapat informasi jika para wali kelas sudah mengurangi ancaman-ancaman ketidak hadiran, namun lebih menekankan siswa menerima konsekuensi jika melakukan pelanggaran terhadap kesepakatan kelas, mereka akan diberi poin bintang sesuai pelanggaran yang mereka lakukan, panggilan kepada siswa, dan siswa diberi pilihan apa yang akan mereka lakukan sebagai pelaksanaan konsekuensi, bergantung dengan kesalahan yang mereka buat. Siswa juga semakin terbuka tentang hambatan belajarnya, para wali kelas juga tidak segan membantu dengan melakukan home visit, memberi bantuan kuota, sembako, pelajaran tambahan di luar jam mengajar, dan sebagainya tergantung kebutuhan siswa. Ini langkah awal yang bagus, selanjutnya perlu komitmen bersama untuk menularkannya ke seluruh kelas dan kemudian menuliskannya dalam visi misi sekolah dan tata tertib sekolah sebagai wujud penerapan budaya positif sekolah.

 

5.      RENCANA PERBAIKAN

Agar seluruh rencana memetik hasil yang sempurna diperlukan kerendahan hati menurunkan ego semua pihak dan berfokus kepada tujuan utama yakni membangun karakter siswa, fokus terhadap siswa. Saya akan mengawali berkomunikasi secara intens dengan para pemangku kebijakan, melakukan pendekatan intensif dengan rekan sejawat yang kurang setuju, dan menggencarkan penumbuhan budaya positif ini dengan Majelis Permusyawatan Kelas (MPK) dan OSIS agar dikawal terus pelaksanaan dan evaluasinya agar menjadi lebih baik dari masa ke masa. Melibatkan orangtua dalam menerapkan keselarasan budaya rumah dengan sekolah, membuat buku kegiatan/pengamatan perilaku baik siswa ketika belajar di rumah yang di tandatangani orangtua, menjadwalkan diskusi rutin dengan komunitas praktisi di sekolah untuk mementukan langkah dan solusi selanjutnya demi usaha-usaha baik agar berhasil. Kerjasama, saling terbuka, saling mendukung, adalah kunci utama keberhasilan sebuah rencana.

 

6.      DOKUMENTASI

 









Tidak ada komentar:

Posting Komentar