REFLEKSI PEMIKIRAN KI HADJAR DEWANTARA DAN SEMANGAT MERDEKA BELAJAR

 


REFLEKSI PEMIKIRAN KI HADJAR DEWANTARA

DAN SEMANGAT MERDEKA BELAJAR

 

Pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD) tentang pendidikan ideal di Indonesia merupakan refleksi beliau terhadap pendidikan kolonial yang merendahkan martabat bumiputera dan memaksakan kultur asing ke dalam lini kehidupan anak bangsa. Manusia pada dasarnya diciptakan merdeka, memiliki kehendak bebas, kuasa terhadap potensinya, pengembangan dirinya, dan sejalan dengan kodrat alam, bahwa ia akan terus maju, berkembang besar, dan tumbuh benih-benih kebaikan dimana ia lahir. Semangat itu melahirkan tekad membangun pendidikan yang memerdekakan manusia, cakap, dan berguna bagi masyarakat. Merdeka dalam konsep beliau bertujuan membentuk kepribadian serta kemerdekaan lahir batin bangsa Indonesia agar peserta didik selalu berada di garda terdepan dalam nasionalisme dan patriotisme.

Globalisasi dewasa ini sedikit demi sedikit mengikis tujuan utama pendidikan yang harusnya mencerdaskan kehidupan bangsa dan proses pemerdekaan manusia, menjadi pendidikan kapitalis, komoditas, pragmatis, dan materialistis. Pendidikan menjadi lebih fokus menciptakan lulusan yang menguasai scientia, keglamoran kognitif, sehingga kurang membekali peserta didik dengan semangat kebangsaan, semangat keadilan sosial, serta sifat-sifat kemanusiaan dan moral luhur sebagai warga negara yang pada akhirnya melahirkan dekonstruksi moral seperti ketidak jujuran, ketidakmampuan menahan diri, kurangnya tanggung jawab sosial, hingga hilangnya ramah tamah, dan sopan santun.

Pada kondisi inilah konsep Pendidikan KHD menjadi solusi dengan memasukkan unsur kebudayaan ke dalam Pendidikan. Kebudayaan merupakan buah budi proses perkembangan secara dinamis mengenai kemenangan perjuangan hidup manusia terhadap alam dan zamannya. Menurut KHD dengan kebudayaan, budi (kematangan jiwa) manusia akan mencapai dua sifat istimewa, yaitu luhur dan halus, luhur budinya dan halus perangainya. Salah satu upaya beliau adalah memasukkan unsur kesenian, budaya lokal, baik permainan, tari, sastra, sandiwara/drama, dan kerajinan tangan di samping ilmu umum. Kebudayaan yang dimaksud tentu saja kebudayaan bangsa, hal ini dimaksudkan agar anak jangan sampai hidup terpisah dengan masyarakatnya, agar anak tidak tercerabut akar dan asal usulnya, generasi tetap lestari, menjaga, memajukan, dan mengembangkan budaya luhur bangsa sebagai bagian jati dirinya. Kebudayaan bangsa tersebut tetap terbuka terhadap budaya dan nilai-nilai Barat/Eropa yang sesuai teori Trikon; pertama, kontinyuitas artinya cocok dengan alam dan kultur masyarakat Indonesia, dan dapat diestafetkan kepada generasi selanjutnya, kedua, konvergen, yakni memfilter budaya luar dengan selektif adaptif, sehingga masyarakat Indonesia tetap membaur dalam kancah universal dan global namun tetap memiliki identitas budayanya sendiri. Jika kultur asing dipaksakan maka nilai yang akan dikembangkan juga menyimpang dari nilai-nilai budaya bangsanya, hal ini tidak mungkin digunakan untuk keperluan membentuk watak dan kepribadian bangsa karena anak tersebut akan merasa teralienasi, terasing dari pergaulan hidup bangsanya dan tidak akan peka terhadap aspirasi dan penderitaan rakyatnya.

Keberaniannya berpikir, mengambil langkah, dan bertindak telah membuat Belanda berang. Beliau yang saat itu belajar kedokteran di STOVIA (yang kini menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia), berkenalan dengan Douwes Dekker dan Tjipto Mangunkusumo-yang kemudian di kenal dengan Tiga Serangkai- 1912 mendirikan organisasi Indische Partij yang bertujuan untuk mempersiapkan kemerdekaan dari Hindia Belanda. Organisasi ini pun dibubarkan kolonial karena dianggap mengganggu ketertiban umum. Beliau, meski akhirnya tidak dapat melanjutkan karena sakit, memilih menjadi seorang penulis di berbagai surat kabar. 1913, Ia mendirikan Komite Boemi Poetra dengan Tjipto Mangunkusumo, Abdoel Moeis, dan Wignjodisastro dengan tujuan menampung isi hati rakyat. Belanda saat itu akan mengadakan pesta besar untuk memperingati 100 tahun kemerdekaan dari Prancis dengan menggunakan dana iuran dari rakyat jajahannya. Juni 1912, dengan sikap kritisnya, Soewardi Soerjaningrat (Ki Hadjar Muda) menulis di Surat Kabar Boemi Poetra mengkritik tindakan tersebut dengan grand theme Als ik een Nederlander was atau Seandainya Aku seorang Belanda. Dalam karangan tersebut, ia mengkritik keras rencana perayaan tersebut.

Kutipannya: "Andai aku seorang Belanda, tidaklah aku akan merayakan kemerdekaan bangsaku di negeri yang rakyatnya tidak kita beri kemerdekaan...Andai aku seorang Belanda, pada saat ini juga aku akan memprotes hajat perayaan tersebut..."

Tulisan itu membikin gempar. Rezim kolonial seperti ditampar. Suwardi kian masuk dalam radar pemantauan polisi rahasia Belanda. Lalu, ia pun diperiksa. Buletin itu dicekal dan komite dilarang menerbitkan apapun. Tak terima, Tjipto menulis artikel di surat kabar De Express, 20 Juli 1913, berjudul “Kracht of Vreez” (Ketakutan atau Kekuatan). Intinya, dia menganggap sikap represi terhadap Komite Boemi Poetra adalah bentuk ketakutan pemerintah. Berselang sepekan, Suwardi kembali menohok pemerintah dengan artikel di De Express, 28 juli 1913, berjudul “Een voor Allen, Allen voor Een” (Satu untuk semua, semua untuk satu).

Pemerintah tak dapat lagi menahan diri. Pasukan Belanda dikirim ke Bandung untuk meringkus Suwardi dan Tjipto, serta menyegel kantor Indische Partij, tempat Komite Boemi Poetra bekerja. Tak terima kedua koleganya ditangkap, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker yang baru kembali dari Belanda, menulis di De Express, berjudul “Onze Helden Soewardi en Soetjipto Mangoenkoesoemo” (Pahlawan-pahlawan kita Suwardi dan Sucipto Mangunkusumo).

Agustus 1913 mereka diadili dan memilih untuk diasingkan ke negeri Belanda. Akhir Agustus di tahun yang sama ia menikahi pujaan hatinya, Sutartinah seorang canggah dari Pangeran Diponegoro dan satu garis keturunan dengannnya dari Pakualam III. Pada bulan September 1913, ia dan rekan Tiga Serangkainya diasingkan ke Belanda. Ia pun melanjutkan pendidikannya di sana dan mengambil Jurusan Keguruan. Sutartinah tak menikmati bulan madunya. Selain sebagai istri Suwardi, dia juga mengatur belanja harian orang-orang buangan politik itu. Dana tersebut berasal dari Tado Fonds, badan bentukan Indische Partij yang menggalang dana dari organisasi atau masyarakat untuk membiayai buangan politik. Jumlahnya pun tak banyak. Untuk menambal kekurangan, Sutartinah menyediakan mengajar di taman kanak-kanak di Weimaar, Den Haag.

Perjalanan hidup beliau hingga menemukan passion mengajar tak luput pula dari pengalaman traumatis yang terjadi semasa beliau hidup di Belanda. Sambil menjadi guru, beliau disibukkan dengan deadline surat kabar di tempatnya bekerja, ditengah beban kerja yagn tak dapat diundur, menangislah anak ke-3 nya, Ni Sutapi Asti Pandansari, ia terus rewel meski telah digendong, agar beliau dapat segera menyelesaikan pekerjaannya, ditaruhlah Ni Asti di luar, diirngi suara tangis anak beliau tetap mengetik, suara tangis itu telah reda, berbarengan dengan selesainya tulisan tersebut, beliau sadar jika ini adalah puncak musim dingin, segera dibukalah pintu itu dan beliau mendapati putrinya yang memang berkebutuhan khusus, membiru bibirnya. Dengan segenap tenaga, beliau segera membawanya ke Rumah Sakit. Saat itu beliau berjanji kepada Ni Asti “nduk….kowe bakal tak mulya ake selawase”, itulah inspirasi system among di yang kemudian menjadi Asas Taman Siswa, ikhlas mengabdi, menghamba pada sang anak.

Di Belanda, ia kemudian mulai mewujudkan cita-citanya untuk memajukan kaum pribumi.Ia ingin bangsa Indonesia memperoleh pendidikan. Setelah pulang ke Indonesia pada tahun 1919, Ki Hajar Dewantara melihat Pendidikan di Indonesia yang top down, guru tak boleh dibantah, teacher centris, sehingga siswa sangat pasif. Ia pun teringat ajaran Pendidikan di Belanda yang menyenangkan, dengan bermain, dengan nyanyian, ternyata di Jawa sudah punya tradisi seperti itu meski belum terbungkus secara resmi dalam pendidikan sekolah. Gejolak politik beliau memang tidak mudah dipadamkan. 1920 ketika istri beliau melahirkan anak ke-2, Ki Hadjar dipenjara di Pekalongan karena orasinya menentang Belanda. Melihat penderitaan suaminya yang hampir mati dipenjara dan telah renta membuat istrinya harus bisa membujuknya berganti Haluan. Ia pun menemui K.H. Ahmad Dahlan, seorang tokoh terkemuka yang kemudian membidani lahirnya Muhammadiyah, untuk memberikan nasehat. Rupanya, kekhawatiran istri dan dukungan dari KH. Ahmad Dahlan membualatkan tekadnya untuk keluar dari politik dan fokus pada bidang Pendidikan. 1922 putri ke-3 nya lahir dan diberi nama Ratih Tarbiyah, itulah pengingat baginya untuk mendirikan sebuah sekolah. Ia mempunyai pengalaman mengajar yang kemudian digunakannya untuk mengembangkan konsep mengajar.

Pendidikan memang identik dengan dirinya. Bersama rekan-rekan seperjuangan, ia mendirikan Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa (Perguruan Nasional Tamansiswa) Pada 3 Juli 1922 di Yogyakarta. Sekolah pertama yang didirikan adalah taman indria (taman kanak-kanak) dan kursus guru, kemudian diikuti taman muda (SD), dan taman dewasa (SMP merangkap taman guru). Setelah itu, diikuti pendirian taman madya (SMA), taman guru (SPG), prasarjana, dan sarjana wiyata. Dalam waktu 8 tahun, Perguruan Tamansiswa telah hadir di 52 tempat. Pada tahun 1929 ia pun mengubah namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara sebagai pengejawantahan sebagai Guru. Beliau percaya bahwa setiap anak memiliki kodrat alam -talenta- dari yang Maha Kuasa, ia pun akan tumbuh berbeda-beda, tergantung pada bagaimana seorang pamomong membentuknya sesuai dengan kodrat zamannya. Beliau ingin anak-anak memiliki jiwa merdeka, merdeka lahir dan batin, serta tenaganya. Jiwa merdeka ini sangat diperlukan sepanjang zaman agar bangsa Indonesia merdeka.

Perkembangannya yang pesat memantik kecemasan Pemerintah Belanda sehingga mengundang dikeluarkannya Undang-Undang Sekolah Liar (Onderiwijs Ondonantie) pada 1932. UU itu menyatakan sekolah swasta harus beroperasi dengan izin pemerintah, mesti menggunakan kurikulum pemerintah, dan para guru harus tamatan dari sekolah guru pemerintah. Bila UU itu dilaksanakan, Perguruan Tamansiswa akan tutup. Sebab, sebagai sekolah swasta, Tamansiswa menggunakan kurikulum sendiri dan pamong (guru) dari sekolah guru sendiri. Menghadapi tekanan ini, ia mengirim telegram kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Bogor. Telegram itu dikirim pada 1 Oktober 1932, persis di hari pertama pemberlakukan UU tersebut.

Petikannya, "...makhluk yang tak berdaya mempunyai insting untuk menangkis bahaya guna menjaga diri dan demikianlah juga boleh jadi kami terpaksa akan melakukan perlawanan sekuat-kuatnya dan selama-lamanya dengan cara tenaga diam." Menurut Ki Hadjar, mengajukan protes hanya efektif jika kedua pihak setara, memiliki hak yang sama. Maka, melawan dengan diam. "Dalam batin, kita harus terus merdeka, tidak mengakui kekuasaan lawan,"

Menghadapi perlawanan ini, pemerintah kolonial terpaksa mengirim utusan untuk berunding. Ketika perundingan berlangsung, sejumlah cabang Tamansiswa ditutup. Korban pertama dalah cabang Cikoneng, Jawa Barat. Pemimpinnya didenda 5 gulden atau 5 hari penjara. Ki Hadjar menyerukan kepada pengelola Tamansiswa tetap terus menjalankan sekolah. Pamong yang ditangkap dan tidak boleh mengajar karena tidak berijazah guru pemerintah langsung diganti dengan pamong lain. Bila ada penutupan sekolah, denda, atau hukuman penjara bagi pengelola, akan diadakan penyelidikan. Hasil penyelidikan akan dimuat dalam surat kabar sehingga rakyat sendiri yang nanti menilai kelayakannya.

Masalah ini akhirnya dibawa ke Volksraad (semacam parlemen masa kolonial, dengan sejumlah kaum pribumi sebagai anggota). Setelah melewati perdebatan panjang, UU ini ditunda selama 1 tahun. Lalu, akhirnya pemerintah kolonial dan Volksraad menyusun UU baru yang jauh lebih bersahabat. Misalnya, tak diperlukan lagi izin dari pemerintah. Tamansaiswa terus berkembang dan Ki Hadjar menjadi tokoh pendidikan termashyur.

Dua pengalaman itulah yang menjadi dasar filosofi pemikiran beliau, among dan jiwa merdeka. Sistem among melarang adanya hukuman dan paksaan kepada anak didik karena akan mematikan jiwa merdekanya, mematikan kreativitasnya. Ki Hadjar Dewantara sudah memprediksi, bahwa di masa depan Pendidikan kita akan mengalami kebingungan. Apa yang dipandang bermanfaatuntuk kemajuan bangsa sebetulnya adalah kebermanfaatan bagi bangsa lain. Kompetensi pribumi hanya dimanfaatkan sebagai pekerja oleh bangsa lain tanpa diberi kesempatan bagi pribumi untuk maju, mandiri, berdikari membangun bangsanya. Sebelum lebih jauh beliau memandang perjuangan kemerdekaan ini, beliau memimpikan bahwa belajar harus bisa mengantarkan kepada kemerdekaan. Itulah harapan beliau, bahwa kelak anak-anak lah yang akan mampu membangun bangsanya, yang lahir dari kodrat alamnya lah yang mampu memahami kebutuhan bangsanya dan mengantar perubahan sesuai kodrat zamannya.

Sekarang kita memang tidak lagi dijajah dalam bentuk fisik oleh kolonialisme, imperialisme, namun kita dijajah secara ekonomi, budaya, sosial. Hamemayu hayuning sariro, kemerdekaan diri, akan mengantarkan kepada Hamemayu hayuning bangsa, kemerdekaan suatu bangsa, jika sudah terwujud maka ia akan mampu Hamemayu hayuning bawono, mensejahterakan dan melestarikan kemanusia umat seluruh dunia.

Pemikiran KHD dalam pendidikan dan pengajaran melahirkan trilogi kepemimpinan dalam pendidikan, tri pusat pendidikan, dan sistem paguron. Beliau mempunyai niat dan semangat tulus dalam memberikan pembelajaran yang merdeka dari paksaan, otoriter, dan penuh hukuman. Beliau membangun sistem pendidikan yang mensejahterakan anak lahir dan batin, memberikan pembelajaran bermakna. Siswa harus memiliki jiwa merdeka, dalam arti merdeka secara lahir, batin, dan tenaganya. Jiwa yang merdeka ini akan melahirkan sikap kompetitif, berdaya saing, dan mandiri, sehingga bangsa Indonesia tidak didikte oleh negara lain.

Di Belanda ia pun belajar berbagai macam teori. Pestalozzi, Frobel, Steinhess, dan Montessori memiliki pengaruh besar terhadap pemikiran Ki Hadjar Dewantara dalam menggunakan kebudayaan did alam kurikulum pendidikan. Beliau meyakini tidak semua budaya baik Eropa akan cocok diterapkan kepada anak-anak. Kodrat alam anak-anak Indonesia yagn telah tumbuh bersama kesenian, tari bedono, permainan tradisional, gending harus terus diajarkan untuk memperkuat dan memperdalam rasa kebangsaan.

Beliau meyakini bahwa kodrat tersebut selalu maju tidak pernah mundur. Maka dalam melakukan prinsip perubahan beliau menerapkan Tri Kon, yakni konvergensi, konsentris, dan kontinyu. Konvergensi artinya mengambil ilmu dan terbuka dengan dunia luar, memilah dan memilih pengetahuan luar yang bermanfaat bagi budaya kita, tapi kita tetap konsentris, pada budaya luhur kita Pancasila, menghargai keberagaman, merah putih, musyawarah, gotong royong, dimana budaya tersebut harus kontinyu, terus menerus dilestarikan, dapat diwariskan, dipertahankan dari generasi ke generasi.

Dengan menyesuaikan teori pendidikan dan perkembangan kognitif, afektif, dan konatif/psikomotorik, beliau membuat kurikulum sendiri di sekolahnya. Beliau memasukkan kebudayaan dalam Pendidikan, mulai sejak dini (Taman Indria), dimulai dengan konsep Tri No, yaitu Nonton, Niteni, dan Nirokke. Nonton (cognitive) melihat dengan segenap panca indera. Niteni (affective) adalah menandai, mempelajari, mencermati apa yang ditangkap panca indera, untuk kemudian nirokke (psychomotoric) yaitu menirukan yang positif untuk bekal menghadapi perkembangan anak. Ketika memasuki fase SD (Taman Muda) dan tingkat selanjutnya, beliau menggunakan konsep Tri Ngo yakni Ngerti, Ngroso, dan Nglakoni. Ngerti (cognitive), aktivitas menggunakan nalar/akal, Ngrasa (affective), yaitu merespon, menghargai, menjunjung nilai-nilai, kemudian Nglakoni (psychomotor) yaitu bertindak secara terpimpin, sehingga pengetahuan yang di dapat menjadi lebih lengkap yakni kolaborasi hasil cipta, rasa, dan karsa.

Dalam sistem among yang beliau kembangkan, Guru hanya sebagai fasilitator pembelajaran, guru memberikan kebebasan kepada siswa untuk belajar mengenai sesuatu yang baik berdasarkan pengalamannya sendiri. Namun berada dalam pengawasan guru. Tri pusat pendidikan yang mengutamakan pendidikan keluarga untuk menanamkan kebiasaan baik, perkembangan jasmani dan rohani, memposisikan orang tua sebagai sekolah pertama anak, guru pertama anak, pemimpin laku adab, dan teladan berperilaku sosial. Anak memiliki peran dalam lingkungan keluarga sebagai kodrat alamnya yang menjadi dasar kemajuan budi, untuk kemudian di kokohkannya watak bangsa ke dalam jiwa raganya melalui lingkungan pendidikan, penerimaan lingkungan dan suasana belajar yang bermakna, menyenangkan, tidak memaksa, akan melahirkan pribadi yang kuat dan bernalar kritis, serta bertindak merdeka. Dalam tataran ini keadaan keluarga sangat mempengaruhi pendidikan, terutama tolong-menolong dalam keluarga, menjaga saudara yang sakit, kebersamaan dalam menjaga kebersihan, kesehatan, kedamaian dan kebersamaan dalam berbagai persoalan yang sangat diupayakan dalam keluarga.

Konsep yang paling popular dalam pemikiran beliau adalah paguron atau pondok/pesantren, asrama, boarding. Gagasan paguron mencakup pengertian bahwa paguron sebagai tri pusat pendidikan, yaitu sebagai tempat guru, sebagai tempat belajar, dan sebagai tempat pendidikan dalam masyarakat. Sistem pendidikan ini berorientasi pada nilai-nilai kultural, hidup kebangsaan, serta kemasyarakatan Indonesia, dimana siswa, guru, pamong, dan pengurus sekolah tinggal dalam satu kompleks. Perpaduan tiga lingkungan pendidikan, yaitu pendidikan keluarga, pendidikan sekolah, dan pendidikan masyarakat memberikan lompatan bagi berkembangnya kebebasan individu sesuai kodrat alamnya, fitrahnya, potensinya, dan wataknya. Sejalan dengan hal tersebut bahwa individu yang merdeka bisa hidup di alam masyarakat yang tertib dan damai. Kebebasan tidak boleh lepas dari ketertiban, karena ketertiban akan melahirkan kedamaian. Jiwa yang merdeka secara lahir batin ini lah yang akan diingat oleh anak untuk mengatur dirinya sendiri dengan asosiasi pengalaman, mengingat tertibnya persatuan di dalam kehidupan umum. Ini lah Asas Taman Siswa-jiwa merdeka- sebagai tujuan tertinggi pendidikan.

Jika ia tumbuh sesuai kodrat alamnya (keluarga dan lingkungannya), memiliki jiwa merdeka, bebas dari tekanan maka karakter yang muncul adalah trilogi kepemimpinan, yaitu Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani (membimbing dengan keteladanan, membina dengan membangun kehendak, dan mendorong kreativitas dengan memberikan kekuatan). Siswa dipandang sebagai asset bagi negara, bukan dipandang sebagai beban pembangunan. Handayani, Jika siswa aktif mencari tahu, belajar, maka karakter mandirinya akan terbentuk, ketika ia di tengah ia akan dapat menumbuhkan semangat diri, untuk berkarya dalam karsa yagn positif, kemudian membawa manfaat bagi nusa bangsa, dan agama. Dan kelak jika ia telah cukup dengan dirinya dan menjadi pemimpin, maka ia akan menjadi teladan bagi orang lain. Dan pada bagian akhir hasil pendidikan, puncaknya menurut KHD adalah menghasilkan manusia bermoral Taman Siswa, yang tangguh dalam kehidupan masyarakat, mampu melaksanakan Tri Pantangan yang meliputi tidak menyalahgunakan kewenangan atau kekuasaan, tidak melakukan manipulasi keuangan, dan tidak melanggar kesusilaan. Jika telah terbentuk karakter demikian siswa akan dapat Hamemayu Hayuning Bawono, ia mengharumkan bangsa ke kancah global, karena memiliki sifat universal, kemanusiaan yang adil dan beradab. Pendidikan di Indonesia harus humanis, memandang anak dengan hormat, menghamba pada sang anak, sehingga kelak ia akan meniru, memanusiakan manusia dan memperkuat nilai kemanusiaan.

            Pemikiran KHD dengan konteks Pendidikan ini tentu sangat relevan. Sebagai Bapak Pendidikan Indonesia, perjalanan sistem pendidikan nasional tak lepas dari filosofi pendidikan beliau yang menginginkan pendidikan sebagai sarana kemerdekaan. Pendidikan yang menjunjung harkat martabat hanya dapat diraih dengan kemerdekaan. Dalam hidup yang merdeka anak didik dapat memiliki jiwa merdeka, lahir, batin, dan dapat tumbuh sesuai kodrat alamnya. Kodrat alam inilah yang menjadi tempat baginya untuk mengeksplorasi diri, tumbuh, berkembang, dan memiliki karakter sebagaimana karakter keluarganya dan mengejawantah dalam karakter kemasyarakatan.

Tantangan yang dihadapi saat ini adalah sikap saling menghargai dalam menciptakan ketertiban dan kedamaian. Intoleransi telah mewabah, bahkan institusi pendidikan menjadi institusi yang rapuh karena banyaknya arus modernisasi dalam pembelajaran. Salah satu upaya membendungnya yakni menyuntikkan semangat kemerdekaan berpikir dari Ki Hadjar Dewantara dalam kegiatan belajar mengajar, kembali memasukkan unsur kebudayaan dalam pendidikan dan pengajaran, mengenalkan kesenian daerah, kerajinan lokal, mengenalkan kebiasaan, tradisi, norma, dan adat istiadat untuk semakin mengokohkan sikap kebangsaan, agar anak tidak merasa terasing dari asal usulnya. Membentuk siswa berkebhinekaan global namun mengakar dalam budaya lokal, karakter yang dikembangkan dalam dunia Pendidikan harus mampu menopang keberlangsungan dan kedaulatan suatu bangsa dan negara.

Dalam skala pembelajaran kelas-khususnya di SMA Negeri 16 Samarinda- tempat penulis mengajar, peran guru sebagai transfer of knowledge and transfer of value menjadi sangat penting. Bukan karena perannya menjadi central, tapi karena keberadaannya, eksistensinya, tak tergantikan dengan teknologi apapun dalam mentransfer kebudayaan dan peradaban bangsa. Guru harus mampu menjadi pioneer dan keteladanan, baik dalam bersikap, bertutur, kedisiplinan, dan perilaku positif lainnya. Sejalan dengan pemikiran beliau bahwa kemerdekaan belajar adalah terbebas dari tekanan, maka guru harus mampu menjadi among dan melihat keunikan siswa, hal tersebut dapat diketahui dengan cara observasi, wawancara terhadap orang tua/ teman bermain anak, dan dokumen perkembangan belajar siswa. Dalam kegiatan formal dapat dilakukan ketika siswa memasuki PLS (Pengenalan Lingkungan Sekolah), Asesmen Awal Semester sebelum Kegiatan Belajar Mengajar di kelas. Mengapa hal ini penting? Agar Guru dapat memaksimalkan potensi, bakat, minat siswa, agar sekolah dapat membantu mempersiapkan sumber daya pendamping, sarana, regulasi, dan persiapan lainnya. Dalam melibatkan Tri Pusat Pendidikan yang pertama dan utama adalah unsur keluarga, Buku Penghubung dan Paguyuban Kelas yang dikelola wali kelas, Paguyuban Sekolah, Komite Sekolah yang dikelola Wakil Kepala Sekolah bidang Humas dapat bersinergi melaporkan kegiatan dan menerima masukan dari orang tua.

Dalam aktivitas pembelajaran di kelas dan luar kelas tentu harus diiringi dengan aktivitas panca indera yang kemudian diolah oleh intelektualnya, dipahami sebagai kebutuhan dan tujuan pembelajaran anak, selanjutnya dipraktekkan dalam kehidupan yang merupakan kegiatan psikomotorik. Hal tersebut dapat melalui games menggunakan strategi TGT, problem based, project based, bernyanyi, bermain peran, dan presentasi untuk menumbuhkan kepercayaan dirinya. Seiring perkembangan zaman, guru dapat menggunakan puzzle elektronik, TTS, educandy, liveworksheet, pixton, dan sebagainya sesuai kebutuhan siswa dan kemampuan adaptasi guru, sehingga upaya melibatkan siswa dan menggerakkan seluruh elemen pembelajaran dapat dibiasakan melalui olah hati, olah pikir, olah raga, olah karsa sehingga tumbuh karakter bangsa yang religious, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas. Kegiatan lain yang dapat dilakukan di luar kelas adalah karya wisata ke tempat bersejarah seperti museum mulawarman di Tenggarong menggunakan kapal yang melintasi Sungai Mahakam kebanggaan Kalimantan Timur, kunjungan ke Lembaga Pemasyarakatan, berbagi kisah di Rumah Aman, panti jompo, pertandingan persahabatan ke Rumah Sakit Jiwa, Rumah Mayat di Rumah Sakit Umum Daerah, Rumah Ibadah agama lain, seminar Kesehatan reproduksi, anti bullying, sadar hukum, 4 pilar kebangsaan, berbagai macam lomba kreativitas siswadan sebagainya.

            Saya beranggapan bahwa siswa harus didorong jika ingin berhasil, harus diancam nilai diturunkan jika tidak mengerjakan tugas, dan dapat hukuman mengerjakan tugas tambahan dan pengurangan nilai jika tidak mengerjakan tepat waktu. Hal tersebut justru menimbulkan rasa frustasi guru karena menjadi lebih fokus pada hal yang tidak prinsipil dan mengabaikan value yang lebih penting daripada sekedar result (nilai raport). Saya juga beranggapan bahwa siswa akan bingung jika tidak dikontrol atau ditemani dalam mengerjakan tugas, karenanya saya sellau memastikan mereka betul-betul faham akan apa yang ia lakukan, bagaimana langkah-langkahnya, dan sebagainya. Perilaku saya ini sebenarnya justru menghambat siswa untuk berkembang, takut tidak sesuai keinginan guru yang kemudian menyebabkan nilai rendah. Saya juga terlalu fokus pada ketuntasan kurikulum agar mudah mengukur ketercapaian KKM, kadang denan berat hati memberi nilai siswa yang jarang masuk, mengabaikan mata pelajaran, dan menyepelekan proses. Hal tersebut menyebabkan saya kadang stress dan tidak ikhlas.

            Namun hal tersebut lambat laut terkikis, apalagi setelah saya mempelajari modul tentang filosofi pemikiran Ki Hadjar Dewantara, saya langsung refleksi betapa saya membebani murid saya, dimana saya memaksakan tugas terkumpul dengan satu format, padahal mereka bisa saja saya kasi pilihan sesuai kemampuannya, bagaimana tentang rubrik penilaiannya biarlah guru yang memikirkan. Saya terlalu berpikir tenang dokumen akreditasi dimana guru harus mendokumentasikan ini itu, yang akhirnya membuat saya lupa bahwa menciptakan belajar bermakna lebih diingat siswa saya daripada hal-hal tersebut. Saya kemudian juga membiasakan diri tidak shock ketika siswa tidak mengerjakan tugas denan tepat, saya cukup memberi ia feedback positif dan membantunya memahami apa yang kurang dan harus ia lengkapi, siswa menjadi tidak takut salah, saya optimis ia akan tumbuh dengan menghargai kemampuannya di luar espektasi mereka sendiri. Saya camkan dalam benak mereka bahwa tugas terbaik adalah tugas yang selesai dikerjakan bukan tugas yang menunggu sempurna. Saya pun kaget, ketika mereka memberi saya apresiasi sebagai Guru Terkreatif, Guru Inspiratif, Guru Bersahabat, dan sebagainya.

Mulai kini, dalam setiap PBM saya akan menuliskan seluruh refleksi saya dalam jurnal khusus selain catatan anekdot siswa. Kami akan lebih giat dan berusaha sebaik mungkin mencari info awal terkait siswa melalui wawancara tidak terstruktur ketika rapat dengan orang tua, membuat survey dan asesmen awal tentang hambatan dan harapan siswa untuk membangun ikatan yang nyaman, sikap positif, dan optimis dalam PBM. Saya juga akan mencari informasi dimana saja, berbagi dengan rekan sejawat tentang praktik baik pembelajaran mereka, dan mengaplikasikan di sekolah saya sesuai kondisi dan kemampuan sumber daya di sekolah. Salah satu hal yang dicontohkan adalah sekolah damai atau moderasi beragama seperti di SMAN 10 Semarang dan MASAGI dari SMAN 1 Lembang. Jika di SMAN 10 Semarang menitik beratkan pada aktivitas multikultural sebagai role model moderasi beragama di sekolah sebagai penopang Profil Pelajar Pancasila, maka JABAR MASAGI adalah penguatan pendididikan karakter melalui Niti Surti, Niti Harti, Niti Bakti, Niti Bukti untuk mencapai Niti Sajati). Aktivitasnya pun beragam seperti membuat mural, poster kata-kata bijak, pelestarian lingkungan, penguatan kebangsaan melalui pramuka, paskibra, penguatan keagamaan melalui Pesantren Ramadhan, doa bersama, shalat berjama’ah, pengembangan budaya literasi, partisipasi lomba, kegiatan kewirausahaan, pelatihan tanggap bencana, dan seminar lain yang diikuti siswa untuk mengembangkan potensi diri.

Pemikiran KHD yang membebaskan siswa dalam berpikir kritis, mengembangkan bakat minat, kreativitas, berdaya saing dan mandiri, harus dikawal agar mereka dapat membangun, berkontribusi sebesar-besarnya dan seluas-luasnya terhadap masyarakatnya, utamanya bangsa dan negaranya. Menjadi saksi perjalanan hidup mereka suatu syukur bahwa saya diberi kesempatan memiliki siswa hebat dan berani melewati tantangan zaman. Meski sudah melaksanakan sebagian besar pemikiran KHD namun kami akan terus mengeksplor filosofi KHD dalam setiap elemen PBM. Kemerdekaan sebagai guru  penulis rasakan dari seringkalinya dilibatkan dan diberi kesempatan mengembangkan diri seluas-luasnya oleh pimpinan, rekan kerja, dan komunitas guru, dan organisasi. Doa, cinta kasih, dan dukungan mereka sangat berarti.

Hambatan dan tantangan tentu ada. Namun satu visi guru yang memprioritaskan siswa dan memberi pengalaman belajar yang menyenangkan akan mengalahkan kendala apapun. Kepuasan batin guru adalah ketika ia dapat menjadi saksi siswanya meraih cita-citanya dan berguna bagi nusa, bangsa, dan agamanya. Saya akan mempraktikkan fatwa Ki Hadjar Dewantara dalam menuntun dan memperjuangkan mereka. Tetep, Mantep, Antep, Ngandel, Kendel, Bandel akan mengantarkan pada Neng, Ning, Nung, Nang. Bahwa ketetapan hati, tekun bekerja, konsisten lahir tidak akan bisa menggoyahkan kemantapan batin, ia akan terus maju tak mudah dihambat. Jika sudah demikian makan akan percaya pada kemampuan Tuhan dan diri sendiri, berani mengambil resiko, dan tahan banting. Setelah melewati hal tersebut maka ia akan tentram lahir batin, jernih pikiran, kokoh, dan mendapatkan kemenangan.

Semangat merdeka belajar masa kini harus mampu mengantarkan mereka menuju kemandirian, berdaya juang, dan berdaya saing. Itu sebabnya saya berkomitmen akan menginvestasikan waktu, tenaga, pikiran, dan kapital sesuai kemampuan saya untuk memberdayakan mereka. Salam dan Bahagia!!

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Darsiti, Soetarman. 1989. Biografi Ki Hadjar Dewantara. Depdikbud

 Dewantara, Ki Hadjar. 2016. Pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka – I. Pendidikan.

Yogyakarta, Majelis Taman Siswa

 Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa. 1977. Piagam dan Peraturan Besar Persatuan

Tamansiswa

 Suparlan, Henricus. 2015. Filsafat Pendidikan Ki Hadjar Dewantara dan Sumbangannya bagi

Pendidikan Indonesia. Jurnal Filsafat Vol 25. Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

 Bahan Bacaan di Modul Pendidikan Guru Penggerak. Kemdikbud. 2020

 

https://jabar.tribunnews.com/2018/05/02/kisah-perjuangan-ki-hajar-dewantara-bapak-pendidikan-nasional-yang-pernah-tak-tamat-sekolah?page=all.

 

https://www.kotaklaten.com/pendidikan-karakter-menurut-ki-hajar-dewantara/ diakses tanggal 28 April 2021 jam 11.15

 

https://edukasi.kompas.com/read/2017/05/02/13433871/siapa.dan.apa.ajaran.ki.hadjar.dewantara. tanggal 28 April 2021 jam 14.00

 

https://www.salamyogyakarta.com/ki-hadjar-dewantara/ tanggal 28 April 2021 jam 14.10

 

https://beritagar.id/artikel/telatah/ki-hadjar-dewantara-dan-pendidikan-kita-kini tanggal 28 April 2021 jam 17.10

Tidak ada komentar:

Posting Komentar