Refleksi Menempa Diri
Hari ini mungkin otak sudah overload hingga harus dituangkan ke dalam tulisan. Seperti ungkapan Baltasar Gracian “refleksi diri adalah sekolah kebijaksanaan”. Refleksi yang jujur membuka pikiran untuk pemrograman ulang, perubahan, kesuksesan dan kebebasan. inilah yang harus dikembangkan siapapun, “Seni Refleksi” istilah Coleridge.
Tiap akhir pekan, ku cermati info apa yang berseliweran di beranda medsos 3 tahun ini, yang tahun-tahun sebelumnya sejak jadi Guru sudah tak sempat lagi punya waktu. Arus informasi dan platfotm belajar merupakan hikmah tersendiri pasca pandemi. Bagaimana tidak?! dulu guru yang bisa mengakses fasilitas pelatihan harus antri menunggu panggilan dari instansi, atau hanya guru itu-itu saja yang berangkat karena dianggap penggerak organisasi, efeknya tidak meratanya pengetahuan. Hal tersebut bagus, jika yang ditugaskan mampu dan mau melakukan diseminasi, jika selesai pelatihan akan disambut antusias yang sama oleh anggota komunitas hal baru tersebut, sehingga pelatihan tidak terkesan individual, personal, tak bermakna, dan tak berdampak. Guru yang mengikuti pelatihan juga sudah nampak menurun, mengapa? karena terlalu banyak tugas yang harus dituntaskan dan juga Lembar Kerja yang didiskusikan. beruntung jika mendapat kelompok diskusi yang aktif dan hidup dengan kesamaan visi dan persepsi, bagaimana jika dapat yang anteng? yang hanya datang, duduk, diam, absen, izin keluar, numpang check in saja. ini sih bikin tenar. Akibatnya setelah pelatihan tak memiliki komitmen terhadap Rencana Tindak Lanjut karena sudah lelah dari pagi hingga tengah malam diperas otak dan tenaganya dengan tenggat tugas yang kadang bikin susah tidur. Ada sih memang instansi yang menganggap Guru keluar kelas itu harus diforsir karena pelatihan ini menggunakan dana negara, namun ada juga kok instansi yang manusiawi bahwa pelatihan itu sesuai jam kerja yakni 8 jam, jadi meski ada tugas tetap masih bisa me-time. Permasalahnnya masih terjadi khilafiyah apakah Guru itu Jam Mengajar atau Jam Kerja? hehe.
Sekarang akses pengetahuan terbuka lebar, mau dari Guru Belajar dan Berbagi, Komunitas Guru Berbagi, Aplikasi PINTAR Kemenag, Platform Merdeka Mengajar, Sekolah.mu, e-guru, dan platform ketiga lainnya yang bahu membahu masif mengadakan pelatihan guru, baik yang gratis maupun berbayar, tinggal guru aktif memanfaatkannya atau tidak, mau bergerak memberi dampak atau terdepak meski nampak?. ini perlu kesadaran diri, integritas, komitmen, dan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Coba diingat kembali, dulu naik pangkat susah karena keterbatasan pengembangan diri yang diakui jika tidak ada logo instansi resmi, pelatihan daring tidak diakui, bagaimana jika instansi tersebut hampir tidak pernah mengadakan peningkatan kompetensi untuk guru? Nyata sudah stagnan gitu aja, tidak tertolong, tak ada juga yang berupaya menawarkan solusi, hanya yang memiliki akses informasi saja, ulet, giat, tekun, dan pantang menyerah yang akhirnya naik pangkat, tentu kadang bisa mengurus administrasi tersebut setelah tidak menjabat di manajemen sekolah, mengurangi tugas tambahan lain, atau sengaja jam kosong agar urusan wira-wiri beres. Ini gambaran bahwa tugas guru tidak hanya mengajar untuk orang lain terus, ada faktor yang harus diperjuangkan juga terhadap dirinya sendiri. Kemudian belum lagi tuntutan publikasi, entah artikel atau jurnal yang membuatnya mentok, Guru ditantang sebagai Dosen juga, riset juga meski ga se-elit civitas akademika ya minimal PTK atau PTS. Bagaimana denan SKP sekarang yang mengisinya bulanan? apakah cukup laopran itu saja guru dianggap menuanaikan tugas dan otomatis naik pangkat tanpa harus dikejar pengembangan diri marathon dan publikasi? Entahlah, namanya aturan dan kebijakan harus selalu berubah diluar kita mampu beradaptasi atau tidak.
Dalam berbagai tantangan dan hambatan tersebut, MGMP berupaya bahu membahu melakukan Diseminasi-jika salah satu pengurusnya ditugaskan pelatihan-, sayang minat guru ke komunitas ini rendah apalagi jika sudah diangkat entah itu P3K atau PNS, sudah dapat TPP dan TPG, untuk apa repot-repot buang waktu kumpul-kumpul jika di sekolah sudah sibuk?! padahal membahas kondisi murid dan sekolah juga merupakan strategi pengembangan diri dan berbagi praktik baik, lo. Jangan dianggap arisan, kumpul ga berfaedah dan malah tambah sibuk. Terlalu sinis dan angkuh. Jika MGMP dianggap ga guna, sebaiknya guru tersebut naik panggung memberi kontribusi, bisa jadi narasumber, menawarkan diri sebagai pengurus, dan sama-sama membesarkan MGMP, bantu rekan lain yang tidak seberuntung kita untuk mendapatkan akses yang sama. Banyaknya pelatihan daring terkait Implementasi Kurikulum Merdeka tidak akan berguna jika tidak dilakukan pendampingan terhadap Guru -meski fitrahnya Guru Merdeka pasti bisa menyusun dokumen tersebut-, disitulah peran MGMP membumikan pelatihan, menguji coba strategi, mengembangkan gagasan baru yang tak perlu khawatir dikloning, diplagiasi -meski pengakuan terhadap karya masih penting-, jangan sampai jika ada permasalahan baru ingat fungsinya MGMP, jika perlu RPP, Kisi-kisi, Soal Ujian, perlu seminar PTK ingat MGMP. Tak elok juga jika kemudian seorang teman membagi Modul ajar dan Modul Mandiri kemudian di klaim miliknya dan diikutkan lomba bahkan diperbanyak alat peraganya tanpa beban. Profesional harus memiliki integritas. Ada kehalalan gaji kita di dalamnya yang dimakan keluarga, sehingga mengajar saja, di kelas saja menjadi tidak cukup. KETELADANAN juga merupakan TUGAS UTAMA GURU. ini tertuang di peraturan tertulis, lelah boleh namun jangan meremehkan. itulah yang membuat ahli ibadan iblis tergelincir dalam murka Allah.
Banyaknya ajang eksistensi kini semakin membuat kita berefleksi, kita banyak melihat rekan guru di sekolah favorit, sekolah unggulan, sekolah internasional dengan karya yang fantastis di tengah kesibukan, cara mengajar yang berbeda, media yang bervariasi, kemudian mengukur diri, ternyata kita tak ada apa-apanya. ibarat pepatah “semakin membaca buku, makin ku sadari betapa bodohnya aku”. Kita semakin haus buat belajar, semakin kita ingin mempraktikkan, semakin kita ingin MELAYANI SISWA dengan baik. itulah semangat IQRA’ yang dibawa Nabi. Betapa semangat literasi Khalifah Abbasiyah mampu menjadi mercusuar dunia, dan kemunduran kekhalifahannya menjadi refleksi dan kehati-hatian bagi kita. Betapa semangat para ulama menuntut ilmu menempuh ratusan kilometer untuk menemukan guru terbaik, wajib kita jaga ghirah-nya. Ya, terus mendongaklah dengan takjub agar kita semakin terinspirasi berbuat lebih dari yang telah kita terima, bukan buat orang lain namun kepuasan adalah hal terbaik versi diri untuk bersyukur kepada Allah.
Refreshing siswa adalah jam kosong, refreshing guru adalah pelatihan 😁
Jadilah pembelajar sepanjang hayat, beradaptasi dan berinovasi
Izza Auwaliha
Pegiat MGMP
Tidak ada komentar:
Posting Komentar