KONEKSI
ANTAR MATERI – COACHING
Pembelajaran berdiferensiasi menuntut guru menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu. Ada beberapa strategi yang dapat dilakukan guru dalam memetakan kebutuhan murid yakni diferensiasi konten, diferensiasi proses, dan juga diferensiasi produk. Agar strategi pembelajaran berdiferensiasi berhasil guru harus mampu menciptakan lingkungan belajar yang berdiferensiasi yang dibangun diatas learning community atau komunitas belajar yang memiliki karakteristik iklim belajar yagn positif dimana setiap orang dalam kelas akan menyambut dan merasa disambut dengan baik, setiap orang saling menghargai, merasa aman, ada harapan bagi pertumbuhan maksimal sesuai kebutuhan, guru mengajar mencapai kesuksesan, ada keadilan dalam bentuk yang nyata, serta guru dan siswa berkolaborasi untuk pertumbuhan dan kesuksesan bersama.
Untuk membentuk atmosfer
belajar yang positif guru harus memulainya dengan kejelian, kepedulian, dan
ketelitian mengamati setiap individu siswa yang unik. Guru tentu sudah
mengetahui bahwa murid bukanlah kertas kosong, mereka datang dari berbagai
latar belakang, kemampuan, dan potensi. Heterogenitas tersebut harus mampu
memotivasi guru memahami sisi lain yang diperlukan murid, yakni kebutuhan
belajar sosial dan emosional. Pembelajaran sosial emosional ini berangkat dari
kesadaran penuh bahwa tidak cukup siswa mengembangkan kemampuan akdemiknya saja
karena kompetensi sosial-emosional (selanjutnya disingkat KSE/PSE (Pembelajaran
PSE) juga berperan penting bagi keberhasilan seseorang. Setiap hari adalah akan
selalu muncul, tantangan, hambatan, dan peluang. Tugas yang menumpuk, deadline
yang berdekatan, berbeda pendapat dengan teman, turunnya motivasi dan
sebagainya tentu akan menghambat produktivitas kerja maupun belajar. Karenanya
penting seluruh komunitas sekolah berkolaborasi.
Tujuan pendidikan
sebagaimana ditegaskan Ki Hadjar Dewantara adalah menuntun tumbuhnya atau
hidupnya kekuatan kodrat anak sehingga dapat memperbaiki lakunya. Sebagai pamong
yang bertugas menuntun sekaligus pemimpin pembelajaran Guru bertugas
meningkatkan kemampuan siswa dan melejitkan potensi mereka. Menyadari berbagai
keunikan mereka tentu diperlukan sebuah strategi dan komunikasi yang membangun,
tidak menghakimi, dan memberi kesempatan siswa menggali kelebihan
masing-masing, terarah tujuannya, dan mampu menyelesaikan masalahnya sendiri
melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif, sehingga murid menjadi berdaya dan
mampu mengeksplorasi potensinya inilah yang disebut proses coaching. Coaching
merupakan bentuk kemitraan bersama
murid untuk memaksimalkan potensi pribadi yang dimilikinya melalui proses yang
menstimulasi dan mengeksplorasi pemikiran dan proses kreatif. Coaching berbeda
dengan konseling dan mentoring, meski ketiganya dapat dilakukan oleh guru
bergantung kepada posisi dan tujuan yang diinginkan coachee (penerima manfaat).
Dalam konteks pendidikan coaching menjadi salah satu proses yang sangat penting
dilakukan di sekolah. Melalui proses coaching dapat menuntun kemerdekaan belajar
murid untuk mengeksplorasi dirinya guna mencapai tujuan pembelajaran dan
memaksimalkan potensinya.
Sebagai coach ketrampilan dasar yang harus dikuasai
adalah ketrampilan komunikasi yang memberdayakan, yakni komunikasi yang
membentuk relasi, menciptakan kenyamanan, menghasilkan kreativitas serta
kemerdekaan. Empat (4) unsur utama komunikasi yang memberdayakan adalah:
1.
terciptanya
hubungan saling mempercayai
2.
menggunakan
data yang benar
3.
bertujuan
menuntun para pihak untuk optimalisasi potensi
4.
memiliki
rencana tindak lanjut atau aksi.
Ada beberapa tipe komunikasi yakni komunikasi
agresif, komunikasi submisif, dan komunikasi asertif. Ketrampilan komunikasi
harus terus diasah agar dapat memberdayakan potensi murid dan diri kita sendiri
sehingga dapat optimal dan belajar dan berkarya. Empat (4) aspek komunikasi yang perlu
dipahami dan dilatih untuk mendukung praktik coaching adalah:
1.
komunikasi
asertif
2.
pendengar
aktif
3.
bertanya
efektif, dan
4.
umpan balik
positif.
Ketika berkomunikasi dengan orang lain tak semua
yang kita harapkan berjalan dengan lancar. Ada saja hambatan datang dan
seringkali hasil komunikasi tidak memuaskan semua orang. Hal ini dapat terjadi
karena sikap berkomunikasi yang berbeda satu sama lain, dan tidak semua orang
dapat secara mudah mengungkapkan apa yang ada di benaknya dengan tepat. Kita
perlu memahami tipe umum manusia berkomunikasi agar kita dapat memberikan
respon yang tepat. Komunikasi yang memberdayakan dapat membentuk relasi,
menciptakan kenyamanan, dan menghasilkan kreativitas serta kemerdekaan. Dalam upaya
membangun keselarasan berkomunikasi, coach juga perlu menyamakan posisi diri pada
saat coaching berlangsung. Beberapa tips singkat yagn coach dapat lakukan
adalah menyamakan kata kunci, menyamakan bahasa tubuh, dan menyelaraskan emosi.
Selain keterampilan berkomunikasi, beberapa
keterampilan dasar perlu dimiliki oleh seorang coach. International
Coach Federation (ICF) memberikan acuan mengenai empat kelompok kompetensi
dasar bagi seorang coach yaitu:
1. keterampilan
membangun dasar proses coaching
2. keterampilan
membangun hubungan baik
3. keterampilan
berkomunikasi
4. keterampilan memfasilitasi
pembelajaran
T: Tujuan
I: Identifikasi
R: Rencana aksi
TA: Tanggung jawab
contoh video coaching dapat dilihat pada link youtube berikut:




Tidak ada komentar:
Posting Komentar